Ada beberapa gelar atau formasi perang yang diperagakan oleh para pihak [waduh, bahasa hukum] yang terlibat dalam perang Baratayudha .. gelar perang ini juga kadang diadopsi oleh pak SH. Mintardja [alm] dalam beberapa ceritanya, menarik disimak apa saja gelar perang yang populer disatu pihak dan gelar perang apa saja yang sering digunakan satu pihak tetapi tidak digunakan pihak lain karena untuk menggelar formasi itu diperlukan tokoh yang tepat dengan keahlian yang pas, nah ini yang menjadi keputusan “mabes angkatan perang” gelar mana yang cocok dan musuh memakai gelar apa saat itu.
Gelar Perang yang sering digunakan antara lain :
Supit Urang atau Capit Urang, formasi yang berbentuk urang “udang” dengan capit yang siap menerkam . Biasanya pihak Kurawa mengandalkan Adipati Karna diposisi kepala dan diapit oleh Sangkuni dicapit kiri dan Kartamarma dicapit kanan dan diekornya Burisrawa yang bisa bergerak kekiri atau kekanan tergantung komando, sedang kalau Pandawa yang menggelar formasi ini maka Abimanyu menempati posisi kepala untuk mendobrak pasukan musuh dibantu capit kiri Gatotkaca dan capit kanan Drestajumna sedangkan posisi ekor sebagai pengatur serangan ditempati Setyaki atau Yudistira. Terlihat walaupun formasinya sama tapi fungsi kepala dan ekornya sangat berbeda antara pihak Kurawa dan Pandawa.
Wulan Tumanggal, formasi berbentuk bulan sabit dan formasi ini hanya digunakan oleh pihak Pandawa yang menempatkan Abimanyu dititik sentral sebagai pelaksana serangan didampingi Kresna. Yudistira, Nakula/Sahadewa dipunggung bulan sabit sebagai pengatur serangan sedangkan sayap kiri dipimpin Setyaki dan sayap kanan dikomandani Bima. Posisi ini melengkung memancing musuh ketengah formasi untuk dijepit dari kiri dan kanan dan posisi pasukan hampir rata disemua titik sehingga mengandalkan perang dengan jumlah pasukan.
Garuda Nglayang, seperti burung garuda yang melayang siap menyambar, formasi ini memiliki sifat agresif dan menyerang .. digunakan baik oleh pihak Kurawa atau Pandawa. Dipihak Pandawa, Arujuna diposisi paruh sebagai pendobrak, Drupada diposisi kepala sedangkan Yudistira, Nakula, Sahadewa diposisi tubuh dengan Drestajumna diposisi sayap Kanan dan Bima disayap kiri, ekor ditempati oleh Setyaki yang bisa bergerak kekiri atau kekanan. Untuk Kurawa, paruh ditempati Salya, Duryudana dibagian tubuh, Durna disayap kanan dan Bisma disayap kiri membantu penyerangan dan diekor ada Dursasana. Terlihat juga walau formasi sama tetapi titik kekuatan kedua pihak berbeda, Pandawa diparuh dan Kurawa disayap kiri dan kanan.
Dirada Meta atau Gajah Mengamuk, formasi ini hanya dipakai pihak Kurawa saja dengan menempatkan Bogadenta yang lincah diposisi belalai, Durna menempati posisi kepala gajah, posisi gading kiri dan kanan ditaruh Bomawikata dan Wikataboma. Duryudana menempati posisi tubuh formasi gajah ini.
Brajatiksna atau Halilintar Menyambar, hanya digunakan pihak Pandawa karena posisi ini memerlukan tokoh pendobrak yang handal yang dijabat oleh Bima di backup oleh Arjuna dan Srikandi dibelakangnya.
Marakabyuha atau Udang Karang, digunakan keduabelah pihak, pasukan berjajar sangat rapat dengan kecepatan lambat tetapi susah didobrak dan kuat dalam pertahanan.
Cakrabyuha atau Roda berputar, formasi yang bertugas merusak barisan musuh sekaligus menjebak tokoh yang diincar untuk dibunuh, Abimanyu terperangkap dalam gelar ini sehingga terpisah dari pasukannya.
Formasi diatas bisa berubah setiap saat dibutuhkan, diperlukan seorang Senapati andal untuk segera merubah gelar dan formasi pasukan bila lawannya merubah formasi yang satu ke yang lainnya. Contohnya saat Abimanyu sebagai senapati, saat itu Kurawa menggelar formasi Dirada Meta lalu merubah ke formasi Cakrabyuha saat Abimanyu terpancing masuk dalam jebakan.
Bisnis Is War .. sama seperti dalam peperangan, dalam bisnis juga formasi kita bisa dimainkan berdasarkan skill karyawan kita, produk yang kita hasilkan/jual, medan yang kita hadapi dalam persaingan dan kecepatan perubahan mengikuti perubahan pasar atau kompetitor.
Jakarta, 21 September 2009.
di Copas dari topmdi.com




